Rabu, 01 April 2009

Toxoplasmosis



TOXOPLASMOSIS, PENYEBAB, GEJALA KLINIK, PATOGENITAS & PENCEGAHAN

Banyak masyarakat yang resah akibat penyakit yang ditularkan melalui produk hewani seperti daging. Salah satu penyakit yang diresahkan tersebut adalah toksoplasmosis. Selain masyarakat umum, banyak para dokter, dokter hewan ataupun ilmuwan yang mulai tertarik dengan keberadaan dari penyakit tersebut baik untuk kesehatan hewan ataupun manusia.

Akibat yang ditimbulkan tidak sedikit apabila ditinjau dari segi ekonomi karena penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya abortus ataupun sampai kematian khususnya pada hewan dan hewan domestikasi lain. Dari segi kesehatan manusia parasit ini juga sangat berakibat fatal khususnya bagi ibu – ibu hamil, anak- anak ataupun penderita imunocompromise. Diperkirakan bahwa 30 – 50 % populasi manusia didunia ini telah terinfeksi oleh Toxoplasma dan secara klinik mengandung kista walaupun tidak jelas dan lebih dari 1000 bayi yang lahir terinfeksi oleh Toxoplasma ( anonim , 2001a; anonim 2001b ).Berikut ulasan secara rinci mengenai Toxoplasmosis :

Toxoplasma gondii

I.Hospes dan nama penyakit

Manusia, mammalia lain, dan burung merupakan hospes perantara T.gondii, sedangkan kucing serta hewan yang termasuk famili felidae lainnya merupakan hospes definitifnya. T.gondii merupakan parasit yang dapat menyebabkan penyakit toxoplasmosis baik toxoplasmosis kongenital maupun toxoplasmosis akuisita.

II.Morfologi dan daur hidup

Pada umumnya Toxoplasma gondii ditemukan intraseluler namun bisa juga ditemukan ektraseluler. Di dalam sel bisa tunggal, berpasangan atau berkelompok. Secara morfologi T.gondii memiliki 2 stadium utama, yang dapat ditemukan pada hospes perantara dan hospes definitif , yaitu tropozoit dan kista serta 1 stadium yang hanya ditemukan pada hospes definitif saja, yaitu ookista.Tropozoit tampak menyerupai bulan sabit, satu ujung lebih tumpul dibanding ujung yang lain.Tropozoit membentuk kelompok menempati berbagai jaringan hospes perantara dan mengadakan pembelahan secara aktif maka terbentuklah pseudokista yang banyak mengandung takizoit (bentuk yang membelah cepat), kecepatan takizoit membelah berkurang secara berangsur maka terbentuklah kista yang mengandung bradizoit (bentuk yang membelah perlahan).Pseudokista dapat dibedakan dengan kista, pseudokista merupakan sel tuan rumah yang menggembung karena adanya multiplikasi parasit yang cepat (berisi takizoit), dan terbatas pada infeksi akut sedangkan kista terjadi pada infeksi kronis terutama dalam otak dan paru-paru, dinding kista dibentuk sebagai hasil sekresi dari parasit sehingga kista memiliki dinding yang lebih kuat, liat dan tidak mudah pecah dibanding pseudokista yang memiliki dinding tipis dan mudah pecah karena berasal dari sel hospes, jika pseudokista pecah parasit dapat keluar menyerang sel yang lain.

Dalam daur hidup T.gondii memerlukan dua jenis hospes yang berbeda, yaitu manusia , mamalia lain dan burung sebagai hospes perantara sedangkan kucing serta hewan famili felidae sebagai hospes definitif. Pada tubuh kucing terjadi kedua macam reproduksi yaitu reproduksi aseksual (skizogoni/endodeogeni) dan seksual (gametogoni) yang kesemuanya terjadi pada epitel usus muda.Reproduksi aseksual dilakukan oleh takizoit dan bradizoit di dalam sel/intraseluler sedangkan reproduksi seksual menghasilkan makrogamet/zigot yang akan ditemukan pada tinja kucing dalam bentuk ookista sehingga pada tubuh kucing akan ditemukan semua stadium (takizoit, bradizoit, pseudokista, kista dan ookista) sedangkan pada tubuh hospes perantara hanya mengalami reproduksi aseksual saja sehingga tidak akan ditemukan bentuk ookista.

Ookista dikeluarkan bersama tinja kucing dan belum mengalami sporulasi sehingga masih bersifat tidak infektif, sporulasi terjadi pada suhu kamar dalam waktu 3-4 hari membentuk 2 sporoblast dan dari tiap sporoblast membentuk 4 sporozoit..Ookista ini relatif toleran terhadap perubahan lingkungan dan dapat bertahan di tanah kurang lebih satu tahun.Infeksi terjadi jika ookista infektif tertelan maka terjadi infeksi akut sampai kronik.Kadang-kadang infeksi akut tidak menimbulkan gejala.Selama stadium akut bentuk tropozoit (takizoit) dapat ditemukan pada berbagai jaringan akan tetapi jika infeksi berubah menjadi kronik maka bentuk kista yang berisi bradizoit dapat ditemukan pada otot,otak atau dalam berbagai jaringan.

Kucing mengalami infeksi jika memakan hospes perantara yang terinfeksi atau melalui ookista yang tertelan maka terbentuk lagi berbagai stadium seksual pada epitel usus mudanya. Jika kucing menelan ookista yang sudah mengalami sporulasi, maka dalam 21-24 hari akan dapat mengeluarkan ookista, sementara jika kucing memakan tikus (hospes perantara) yang dalam jaringannya terdapat takizoit maka dalam 9-11 hari akan muncul ookista dalam tinja kucing.Akhirnya jika tikus yang mengandung bradizoit/kista dalam jaringannya termakan oleh kucing maka dalam waktu 3-5 hari akan terbentuk ookista dalam tinjanya.

I.Patologi dan Gejala Klinik

Toxoplamosis akuisita

Kasus toksoplasmosis akuisita pada manusia didapat dari masuknya jaringan kista pada daging yang terinfeksi karena daging tidak dimasak dengan sempurna atau ookista pada makanan yang tercemar kotoran kucing, transfusi darah atau melalui transplantasi organ. Bradyzoite dari jaringan kista atau sporozoite yang terlepas dari ookista masuk ke sel-sel epitel di usus dan bermultiplikasi di usus. Setelah invasi yang terjadi di usus, parasit memasuki sel atau difagositosis. Sebagian mati setelah difagositosis dan sebagian lain berkembangbiak dalam sel menyebabkan sel hospes pecah dan menyerang sel baru.

Toxoplasma gondii dapat menyebar menyerang berbagai sel dan jaringan dalam tubuh kecuali sel darah merah (karena tidak berinti), penyebaran itu cepat terjadi karena parasit akan memasuki saluran limfe dan darah sehingga penyebaran bersifat hematogen dan limfogen. Parasitemia berlangsung dalam beberapa minggu.Gambaran klinis akan tampak setelah beberapa waktu dari rusaknya jaringan yang terinfeksi, khususnya yang vital dan penting seperti mata, jantung, dan kelenjar adrenal. Toxoplasma gondii tidak memproduksi toksin. Nekrosis pada jaringan biasanya disebabkan oleh multiplikasi intraselular dari tachyzoite. Manifestasi klinik yang paling sering dari toxoplasmosis akuisita adalah limfadenopati, rasa lelah, disertai demam dan rasa sakit kepala.

Toxoplamosis kongenital .

Toksoplasmosis berpengaruh pada janin dalam kandungan. Bahkan bisa berakibat fatal, jika daya tahan ibu yang terinfeksi lemah. Ibu dapat menularkan infeksi ini pada janin melalui transplasenta dan merusak janin sehingga ibu pun mengalami keguguran. Kalau pun kehamilan bisa berlanjut terus, janin bisa cacat. Ibu hamil yang kena infeksi tokso pada trimester pertama, kehamilannya bisa mengalami keguguran. Bila terjadi pada trimester kedua, janin dapat lahir dengan kondisi cacat, misal kepala membesar (hidrosefalus) atau kepala mengecil (mikrosefalus). Atau, bayi mengalami kebutaan (retinochoroid). Jika ibu terinfeksi pada trimester ketiga, bayi akan lahir dengan kelainan seperti sulit konsentrasi, retardasi mental, atau kejang-kejang. Bisa juga, lahir prematur dengan radang pada otak dan selaput otak (meningo-ensefalitis). Bagaimana parasit tokso ini bisa menembus plasenta dan sampai ke janin, hingga saat ini masih belum diketahui pasti, karena tak seperti virus, parasit tak mudah menembus plasenta. Dan sayangnya, sulit sekali mendeteksi terjadinya penularan toksoplasma ini, apalagi jika terjadi pada wanita yang tidak hamil, kecuali melakukan pemeriksaan laboratorium. Si wanita tidak akan merasakan gangguan berarti secara fisik. karena geiala-geiala terinfeksi tokso juga tidak jelas. Kadang muncul demam, sakit kepala, badan pegal-pegal, mudah lelah, dan kurang nafsu makan.

IV.Diagnosis

Untuk melakukan diagnosa terhadap penyakit toksoplasmosis dapat dilakukan beberapa cara yaitu bisa menggunakan cara serologi (metode Elisa) ataupun pemeriksaan histopatologi. Dengan hanya melihat gejala klinik maka diagnosa kurang bisa ditegakkan karena gejala yang tampak tidak spesifik ( Dubey, 1999 ). Diagnosa akan lebih akurat jika dilakukan pemeriksaan laboratorium, kadang-kadang tropozoit dapat ditemukan dan diidentifikasi pada pewarnaan kelenjar limfe, sumsum tulang, otak. Pemeriksaan bisa berupa isolasi parasit dengan cara menginokulasi cairan tubuh atau gerusan jaringan pada mencit yang bebas toxoplasma secara intraperitoneal, setelah 7-10 hari cairan peritoneal diperiksa bentuk proliferatif Toksoplasma .Pemeriksaan tubuh langsung bisa dilakukan dengan cara melihat adanya dark spot pada retina, melakukan pemeriksaan darah untuk melihat apakah parasit sudah menyebar melalui darah dengan melihat perubahan yang terjadi pada gambaran darahnya, serta bisa menggunakan CT scan untuk menemukan lesi akibat parasit tersebut. Pemeriksaan juga bisa dilakukan dengan biopsi dan dari sampel biopsi tersebut bisa dilakukan pengujian dengan menggunakan PCR ( Theobald, 2001; Fuentes, 2001 ), isolasi pada hewan percobaan ataupun pembuatan preparat histopatologi ( Dubey, 1999).

V.Epidemiologi

Kucing sering dianggap menjadi penyebab keguguran pada wanita hamil, karena ibu / calon ibu secara tidak sadar terinfeksi toxoplasmosis . Namun kucing bukan satu-satunya sumber penularan toxoplasmosis pada manusia, disamping itu penularannya bukanlah melalui sentuhan atau berdekatan dengan hewan penderita.

Dari hasil survey di berbagai negara di dunia yang didasarkan atas pemeriksaan serologi positif sangat bervariasi. Demikian juga di berbagai daerah di Indonesia. Sekitar 27% kucing liar dan 15% kucing ras di Surabaya teruji positif toxoplasmosis . Hasil survey di beberapa tempat di pulau Jawa menunjukkan tingkat kejadian penyakit ini pada babi berkisar antara 7 - 56%, sedangkan pada kambing dapat mencapai 80%. Kejadian pada sapi relatif lebih rendah, karena kejadiannya tidak banyak dilaporkan.

Kejadian seropositif di Indonesia pada orang sehat bervariasi antara 5 - 51%, dari RSUD Dr. Sutomo Surabaya dilaporkan mencapai 26.6%. Di negara yang warganya mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging setengah matang, kejadiannya relatif sangat tinggi, antara lain ; Prancis : anak-anak 33% , orang dewasa 87% ; Elsavador : anak-anak 40%, orang dewasa 93%.

Yang paling rentan terhadap infeksi toxoplasmosis adalah :

· Bayi yang dikandung oleh ibu yang tertular untuk pertama kalinya oleh infeksi toxoplasma beberapa bulan sebelum kehamilan atau selama kehamilan

· Seseorang yang mengalami penurunan system kekebalan yang hebat, misalnya penderita HIV / AIDS ; sedang menjalani khemoterapi terhadap tumor ; atau baru saja mendapat transplantasi organ.

Tindakan pencegahan tentu saja harus dilakukan demi menghindari terinfeksi parasit ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:

1. Jangan memberi makan hewan peliharaan dengan daging jeroan dan tulang mentah/tidak dimasak. Demikian juga susu harus dimasak dulu.

2. Mencegah kucing dan anjing berburu burung, tikus, lalat, dan kecoa.

3. Pasir tempat kotoran kucing sebaiknya dibersihkan setiap hari. Ookista yang mungkin keluar bersama kotoran memerlukan waktu 24 jam untuk menginfeksi.

4. Setelah mencuci daging mentah, sebaiknya cuci tangan dengan sabun.

5. Untuk ibu-ibu yang sedang hamil jangan mencuci/membersihkan daging/jeroan yang akan dimasak.

6. Sebaiknya sayuran maupun buah-buahan yang akan dimakan dicuci bersih.

7. Untuk orang-orang yang biasa makan dengan tidak memakai sendok, jangan lupa mencuci tangan dengan sabun.

8. Untuk ibu-ibu yang merencanakan kehamilan sebaiknya periksa darah, untuk mengetahui ada tidaknya infeksi taksoplasma. Setelah hamil, pemeriksaan darah diulang pada trisemester pertama dan akhir kehamilan.

9. Ibu hamil jangan membersihkan tempat kotoran kucing. (Erkus/berbagai sumber)